AKTIVITAS SANTRI YANG PAHALANYA TERSUS MENGALIR KEPADA YANG BERWAKAF

WAKAF GRQ

Bumi dan seisinya adalah ciptaan Allah SWT yang harus dijaga. Salah satu caranya yakni dengan menjaga lingkungan agar tetap asri, menanam bukan hanya sekadar kegiatan fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Aktivitas ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberikan ganjaran pahala yang besar bagi siapa saja yang melakukannya, bahkan bisa menjadi ladang amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir walaupun penanamnya telah wafat.

Rasulullah SAW sendiri menganjurkan untuk menanam pohon dan tanaman sebagai cara melestarikan lingkungan sekaligus amalan untuk sedekah.
Rasulullah SAW mengajari para sahabat cara bercocok tanam, Cara inilah yang kemudian dicontoh, dilakukan serta diwariskan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya.

Alhamdulillah, Anjuran Rasullulah dalam melestarikan lingukungan telah diaplikasikan oleh Pondok Tahfizh GRQ sekaligus menjadi program life skills untuk santrinya.

Salahsatu program yang saat ini digarap adalah WAKAF PRODUKTIF Yaitu, donasi wakaf yang dikelola oleh Pondok dan hasilnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan oprasional Pondok, pengelolaan WAKAF PRODUKTIF ini dalam bentuk budidaya ternak lele , ayam joper, domba, penggemukan sapi dan pertanian ( pembuatan bibit cabe, Jagung Dan Lain-lain ) .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan ia menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Hubungan Ketahanan Pangan dengan Kesehatan dan Kesejahteraan Santri

1. Nutrisi yang Baik, Ketersediaan pangan bergizi sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan santri. Makanan yang seimbang membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah penyakit, yang memungkinkan santri belajar dengan lebih efektif. 

2. Kesehatan Mental: Asupan gizi yang cukup berkontribusi pada kesehatan mental. Santri yang mendapatkan makanan bergizi cenderung memiliki suasana hati yang lebih baik dan mampu menghadapi stres dengan lebih baik. 

3. Pendidikan yang Optimal: Ketika santri sehat secara fisik dan mental, mereka dapat berkonsentrasi lebih baik dalam belajar. Ini mendukung pencapaian akademis dan perkembangan karakter yang diharapkan dalam pendidikan pesantren. 

4. Kemandirian dan Keterampilan: Dengan terlibat dalam kegiatan pertanian dan peternakan, santri belajar keterampilan yang dapat bermanfaat di masa depan. Ini juga membangun rasa tanggung jawab dan disiplin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ بَنَى بُنْيَانًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ أَوْ غَرَسَ غَرْسًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ كَانَ لَهُ أَجْرٌ جَارِيًا مَا انْتَفَعَ بِهِ مِنْ خَلْقِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ

“Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang Maha Pengasih.” (HR. Ahmad, no. 4739)

Dalam sabda beliau yang lain,

سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ أَوْ غَرَسَ نَخْلاً:

“Ada tujuh yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: (salah satunya) orang yang menanam pohon kurma…” (HR. Al-Bazzar no. 7289; Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin 2: 181; dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman no. 3449. Lihat Sahih Al-Targhib no. 73)

Hadis di atas menunjukkan bahwa setiap tanaman yang kita tanam dan hasilnya dimanfaatkan oleh makhluk hidup akan menjadi amal jariyah bagi kita. Pahalanya terus mengalir, meskipun kita sudah meninggal, asalkan tanaman itu tetap memberi manfaat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *