Mencintai Nabi memiliki tanda-tanda yang telah dibicarakan oleh para ulama. Sebagai contoh, al- Qadhi Iyadh berkata :
“Termasuk tanda mencintai Nabi
al- Qadhi Iyadh
adalah membela Sunnah beliau dan menegakkan Syariat beliau, serta berangan-angan kalau saja dia bisa ikut menghadiri masa hidup beliau (untuk membela
beliau); sehingga dikarenakan itu orang yang bersangkutan akan mengerahkan segenap jiwa dan harta kekayaannya.“
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di antara tanda cinta kepada Nabi , adalah bahwa seandainya seseorang disuruh memilih antara kehilangan dunia atau kehilangan kesempatan bertemu Rasulullah saw, kalau itu memungkinkan, maka ia lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan kesempatan untuk melihat beliau; dia merasa lebih berat kehilangan Rasulullah SAW daripada kehilangan kenikmatan dunia. Orang yang seperti itu telah menyandang sifat mencintai Nabi di
atas. Dan (sebaliknya) barangsiapa yang tidak demikian, maka tidak.
Yang demikian itu tidak hanya terbatas pada persoalan ada atau kehilangan, akan tetapi harus terwujud dalam bentuk membela Sunnah beliau dan menegakkan Syariat beliau serta melawan para penentang-penentangnya, dan termasuk di dalamnya adalah menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar,”.
Al-Allamah al-Aini rahimahullah berkata :
“Ketahuilah bahwa mencintai Rasulullah adalah kemauan untuk menaati beliau dan meninggalkan seluruh bentuk penentangan
Al-Allamah al-Aini rahimahullah
terhadap beliau , dan yang demikian itu termasuk di antara kewajiban-kewajiban Agama Islam.“
Dari beberapa pernyataan ulama di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tanda-tanda mencintai Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
- Sangat berkeinginan untuk bertemu serta menemani Rasulullah SAW, dan hilangnya kesempatan bertemu dengan beliau lebih berat daripada kehilangan apa saja di dunia ini.
- Penuh kesiapan untuk mengerahkan jiwa dan harta dalam rangka membela beliauSAW .
- Menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan beliau SAW.
- A Membela Sunnah-sunnah dan menegakkan Syariat beliau SAW.
Barangsiapa yang tanda-tanda cinta Rasul tersebut ada pada dirinya, maka hendaklah dia bersyukur kepada Alah SWT dan memohon kepadaNya agar cinta itu kekal dan tumbuh subur dalam dirinya.
Dan (sebaliknya) barangsiapa yang kehilangan sebagian atau seluruh rasa cintanya kepada Rasulullah, maka hendaklah dia mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya sebelum dia dihisab, pada suatu hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat; dan tidak ada sesuatu pun yang samar di hadapan Allah .
Jangan sekali-kali berusaha menipu Allah dan orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya orang yang berusaha untuk melakukan penipuan terhadap Allah dan orang-orang yang beriman, maka tidaklah dia menipu kecuali dirinya sendiri, sebagaimana Firman Allah SWT.
يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ ٩
Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.
Al Baqarah ayat 9
Sumber tulisan :
Buku Mencintai Rasulullah ( Dr. Fadhl Ilahi )
