Ketika Abu Bakar telah mendekat pada kematiannya, ia berwasiat kepada Khalifah yang menggantikan-nya yaitu Umar bin al-Khaththab, seraya berkata kepadanya, “Ketahuilah, bahwa Allah di siang hari memiliki hak yang tidak diterima pada malam hari, dan ketahuilah bahwa Allah SAW pada malam hari memiliki hak yang tidak diterimna pada siang hari, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya perbuatan yang sunnah tidak bisa diterima kecuali setelah yang wajib dikerjakan. “.
Dalam wasiat tersebut Abu Bakar menjelaskan Suatu metodologi untuk memupuk keimanan, karena keimanan membutuhkan pupuk dan pupuknya adalah ibadah sehari-hari, seperti sholat lima waktu yang silaksanakan secara berjamaah di masjid dengan khusyu dan tenang, melaksanakan shalat sunnah rawatib, mnembaca
al-Qur an setiap hari dan membaca dzikir pagi dan sore.
Jika seseorang mengabaikan semua ini maka hal itu dapat melemahkan iman dan sikap konsistennya, besarnya usaha seseorang untuk beribadah, maka sebesar itu pula imannya bertambah dan sebesar itu pula kekuatan hubungannya dengan Allah menguat.
Rintangan paling besar akan kita hadapi saat ini khususnya pada diri sebagian mereka yang bersikap konsisten adalah kelemahan dan kemalasarn dalam beribadah, di saat shalat, kekhusyu’an tidak dimilikinya dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, shalat-shalat sunah rawatib ditinggalkan, al-Quran dijauhi dan shalat witir di malam hari diabaikan, maka bagaimana mungkin kekuatan iltizam dan konsistensi akan dapat dia miliki?! Tidak diragukan lagi, hal itu disebabkan karena kebodohannya kepada urgensi ibadah.
Maka orang yang multazim hendaknya memiliki kemauan keras untuk melakukan berbagai ibadah, bersaing dengan orang-orang lain, dan tidak rela ketinggalan, sehingga lebih baik daripada orang lain dan tidak pernah puas dengan yang biasa. Maka berpaculah, jika engkau benar-benar mempunyai kemauan tinggi, karena banyak orang yang bersaing denganmu, maka bertolaklah. Dan katakan kepada orang yang menyerumu jika ia memanggilmu, “Siap!”.
Sumber referensi :
31 sebab lemahnya iman
( Husain Muhammad Syamir )
