MENGENAL SIFAT-SIFAT RASUL

Rasulullah saw adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampaiAllah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ۝٤

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Konsekuensi Sifat Rasul

Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga sedetail-detailnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabb-nya, hingga akhlaqnya pun adalah Al-Qur’an?

Sifat kerasulan menunjukan bahwa beliau benar-benar seorang rasul; utusan Allah yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Beliau adalah manusia terbaik, manusia pilihan, seseorang yang tepercaya dan menjadi kepercayaan Allah. Dengan penetapan sifat kerasulan bagi beliau ini, mengandung konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut:

  1. Kita harus memuliakan dan mengutamakan beliau di atas seluruh manusia.

Menghormati beliau beserta segenap syariat yang dibawanya di atas seluruh syariat lainnya. Hal itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan mencintainya di atas kecintaan terhadap diri sendiri. Allah berfirman:

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ۝۸ لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلً۝۹

Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang. (QS. Al-Fath: 8-9)

  • Mendahulukan ucapannya di atas seluruh ucapan manusia tanpa terkecuali dan beramal dengan sunnah-sunnahnya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ۝۱

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujurat: 1)

  • Mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) (QS. An-Nisa: 59)

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)

  • Menjadikannya sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita.

Yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai sumber hukum yang tidak dapat dipisahkan dengan Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا۝٦۵

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)

Dengan dua sifat Rasulullah yakni sebagai Rasul dan hamba Allah swt ini tertutuplah dua pintu kesesatan dan penyimpangan dari golongan yang berlebih-lebihan (al-ifrath) dan golongan yang bermudah-mudahan (at-tafrith). 

Golongan al ifrath adalah mereka yang melampaui batas dalam memuji dan mengangkat Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan Allah atau memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah semata atau mendudukkannya seperti kedudukan Allah.

Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah telah menyerupai Nasrani ketika menuhankan nabi Isa ‘alaihis salam, Rasulullah pun memperingatkan umatnya agar jangan seperti mereka. Rasulullah bersabda

لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana Nasrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah tidak berkenan dipuji secara berlebihan dan melampaui batas sebagaimana umat Nasrani melakukannya kepada Isa bin Maryam. Sedemikian berlebihannya mereka dalam memuji Nabi Isa hingga mereka memberikan derajat ketuhanan kepadanya. Rasulullah tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya dan dilakukan oleh umatnya.

Dalam suatu riwayat disebutkan: “Ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah sambil mengatakan: “Engkau adalah Yang paling Agung dan Mulia yang tiada tandingannya”. Maka beliau berkata: “Berkatalah kalian tapi jangan dirasuki setan”.(HR Abu Daud)

Sebagian lagi ada yang berkata: “Ya Rasulullah engkau yang paling baik, anak orang yang paling baik dan Sayyid kami, anak dari Sayyid kami”. Beliau menjawab: “As-Sayyid adalah Allah”, dan bersabda:

Wahai segenap manusia berkatalah kalian dengan perkataanmu dan janganlah kalian dikuasai hawa nafsu setan, aku adalah Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka jika kalian meninggikan kedudukanku di atas kedudukan yang telah Allah tempatkan bagiku. (HR. Ahmad dan Nasa’i) 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *