MENGENAL SIFAT-SIFAT RASUL

Perbedaan mereka dengan kaum Nasrani adalah bahwa jika kaum Nasrani menyatakan dengan tegas Isa adalah Tuhan-Nya, titisan Tuhan, atau anak Tuhan sesuai dengan perselisihan yang ada pada mereka. Adapun mereka yang ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Rasulullah tidak mengucapkan lafadz-lafadz seperti Nasrani, tetapi mereka mengungkapkannya dalam bentuk perbuatan yaitu: berdoa kepadanya, menganggapnya ikut menakdirkan sesuatu bersama Allah, dapat menentukan manfaat dan madharat, menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan dan lain-lain.

Bahkan mereka memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah seperti عَالِمُ اْلغَيبِ (mengetahui yang ghaib), pemberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, penolong hamba yang berada dalam kesusahan di manapun ia berada, ruhnya diyakini hadir di tengah-tengah mereka ketika membaca syi’ir pujian kepadanya, padahal beliau telah wafat.

Lebih dari itu julukan-julukan yang berlebihan acap disandarkan kepada beliau seperti:

ﺃَﻧْﺖَ ﻧُﻮْﺭٌ ﻓَﻮْﻕَ ﻧُﻮْﺭٍ

Engkau (Muhammad) adalah cahaya di atas cahaya,

وَمِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتُهَا

Dan dari kedermawananmu (adanya) dunia dan pasangannya,

وَمِنْ عِلْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَاْلقَلَمِ

Dan termasuk dari ilmumu adalah ilmu Lauhul mahfudz dan pena.

Dan ucapan-ucapan ghuluw lainnya. Beliau tidak ridha dengan semua yang mereka ucapkan dan sangkakan kepadanya. Karena Allah ta’ala telah memerintahkan beliau untuk menyatakan:

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ۝۱۸۸

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa memberikan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188)

Keyakinan dan prinsip batil itu masih hidup di tengah-tengah umat. Inilah yang kita katakan dengan golongan ahlul ifrath atau ahlul ghuluw (golongan yang melampaui batas). Sebaliknya bagi golongan ahlut tafrith, mereka menjatuhkan martabat beliau dan merendahkannya dengan menolak sunnah-sunnahnya secara total seperti yang terjadi pada para pengingkar sunnah yang dikenal dengan istilah aliran ingkarus sunnah atau qur’aniyun. Mereka ini dikafirkan oleh para ulama dan dihukumi sebagai murtad (keluar dari agama Islam) dikarenakan kalimat syahadat yang diyakininya hanya sebatas لآإِلَهَ إِلاَّ الله  sehingga membatalkan persaksiannya terhadap kalimat مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ dengan pengingkarannya terhadap sunnah-sunnah Nabinya. 

Mereka para pengingkar sunnah itu diancam oleh Allah dengan ancaman yang berat. Allah ancam mereka dengan Jahannam dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ لَهٗ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ۝۲۳

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia akan mendapat (azab) neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Jin: 23)

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ࣖ۝۱۱۵

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa: 115)

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur: 63)

Demikian pula bagi mereka yang menolak sebagiannya seperti yang terjadi pada ahlul bid’ah dari kalangan Mu’tazilah, kaum rasionalis, Islam liberal dan sejenisnya. Mereka adalah golongan sesat yang diancam oleh Rasulullah dengan neraka. Inilah yang dikatakan dengan ahlut tafrith wal jafa’. Mereka merendahkan Rasulullah dan menganggapnya hanya sebagai seorang pengantar surat yang mana mereka menerima suratnya yaitu Al Qur’an, menurut mereka dan tidak ada kaitannya dengan pengantarnya.

Dua golongan tersebut di atas terbantah dengan makna yang terkandung dalam kalimat syahadat مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . Dan golongan tersebut bertentangan dengan syahadat مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ Ahlul ifrath menentang kehambaan beliau yang terkandung dalam مُحَمَّدًا عَبْدُهُ dan ahlut tafrith menentang kerasulan beliau yang terkandung dalam kalimat مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

Kesimpulan dari pembahasan kali ini adalah bahwa syahadat مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ memberikan konsekuensi kepada kita yaitu keharusan bagi kita untuk mentaati segala apa yang diperintahkan-Nya, membenarkan segenap apa yang dikabarkannya, meninggalkan segala yang dilarang dan dicelanya dan kita tidaklah beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada kita serta mendahulukan sunnah beliau di atas segenap ucapan manusia tanpa terkecuali siapapun ia orangnya. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *